Minggu, 04 September 2011

Ilmu Ukur Tanah


Peta Tranchis adalah gambaran dari bumi yang direpretasikan dengan sistem proyeksi dengan skala tertentu. Kemudian merangkai titik-titik dilapangan dan mengetahui elevasi, maka dapat dibuat garis kontur suatu lokasi.
Gambar situasi adalah sesungguhnya ini merupakan peta-peta yang secara langsung sangat penting bagi bangunan-bangunan, apakah selaku petunjuk lokasi, maupun untuk mendapatkan perihal persis dimana akan didirikan suatu bangunan.
1.1. DEFENISI PETA
Peta adalah proyeksi bumi ke dalam sebuah bidang rata ( kertas ) yang disertai skala / perbandingan, misal 1 : 100.000 ( 1 cm pada kertas = 1 km pada bumi ), yang berisi gambaran permukaan bumi berupa daratan, lautan gunung, danau, dan lain-lain.
1.2. KEGUNAAN PETA
Kegunaan peta sangat banyak dan beraneka ragam, dilihat dari kegunaannya untuk merencanakan lebih lanjut dan melaksanakan pekerjaan teknis berupa gedung, jalan raya, jalan kereta api, jembatan, dan lain-lain.
Skala dipilih dan disesuaikan dengan besar kecilnya pekerjaan yang dilakukan menurut maksud dan kegunaan peta, misalnya :
1. Peta jalan raya untuk keperluan tourism.
2. Peta sungai untuk keperluan pelayaran.
3. Peta geologi untuk menyatakan keadaan geologis suatu daerah.
Sehingga, keberadaan peta sangatlah diperlukan didalam suatu perencanaan dan pelaksanaan suatu pekerjaan teknis.



1.3. ALAT UKUR THEODOLITE, RAMBU UKUR, DAN STATIP
1.3.1. Alat Ukur Theodolite
Sudut-sudut mendatar dan tegak diukur dengan alat pengukur sudut yang dinamakan Theodolite, adapun bagian-bagiannya adalah :
1. Sekrup ABC sebagai pengunci pesawat.
2. Nivo kotak sebagai pedoman apakah dalam keadaan imbang.
3. Nivo tabung fungsinya sama dengan nivo kotak.
4. Sekrup pengunci arah horizontal untuk mengunci agar tidak bergerak horizontal.
5. Sekrup pengunci arah vertical untuk mengunci agar tidak bergerak vertikal.
6. Kaca penerangan untuk penerangan.
7. Kompas untuk penunjuk arah utara.
8. Piringan pembacaan sudut horizontal.
9. Lensa penentu sudut horizontal dan vertical.
10. Lensa objektif.
1.3.2. Statip
Statif ( kaki tiga ) dibuat dari kayu yang kering dan dicat kuning dihubungkan dengan alat-alat sambungan besi. Kegunaan dari statip ini yaitu sebagai penyangga atau kaki pesawat.
1.3.3. Rambu Ukur
Rambu ukur sangatlah diperlukan dalam pengukuran tanah, sebab rambu ukur berfungsi sebagai obyek bidikan pada titik yang ditentukan, sehingga kita dapat mengetahui besarnya nilai Benang Atas, Benang Tengah, dan Benang Bawah dari pembacaan rambu ukur tersebut. Kemudian dari data yang diperoleh tersebut kita dapat melakukan analisa data yang diperoleh dari rambu ukur tersebut.



2.1. PETA TRANCHIS DAN GAMBAR SITUASI
Seperti yang telah disebutkan dalam Bab Pendahuluan, bahwa pengukuran mengenai letak ( posisi ), elevasi ( ketinggian ), dan konfigurasi dari areal tanah memerlukan beberapa penunjang yang diantaranya adalah keberadaan peta dan perlengkapan pengukuran yang lengkap.
Data yang diperoleh dari pekerjaan pengukuran tersebut, kemudian dilukiskan pada suatu peta yang sering dikenal dengan peta topografi. Menurut Davis dan Foote adalah menggambarkan simbol-simbol yang spesifik mengenai konfigurasi atau relief tanah yang dipetakan dan keadaan alami atau buatan, seperti saluran sungai dan lain-lain.
Sedangkan menurut Ayres dan Scoates adalah peta yang menggambarkan sifat permukaan tanah yang dilengkapi garis-garis kontur yang berbeda-beda ekemennya dan berbagai keadaan yang terdapat pada areal tanah tersebut dengan menggunakan symbol tertentu.
Didalam pembuatan peta, pengukuran titik-titik detail untuk penggambaran peta haruslah berdasarkan pada posisi yang tetap baik arah horizontal maupun vertikal. Dengan demikian, penggambaran untuk pembuatan peta setidaknya kita harus menguasai teori-teori sebagai berikut :
1. Teori tetang poligon tertutup.
2. Teori tetang pembuatan titik detail.
3. Teori tentang pengukuran jarak dan beda tinggi secara optis.
4. Teori tentang penggambaran peta.
2.1.1. POLIGON TERTUTUP
Suatu bentuk pengukuran dimana pengukuran ini dilakukan seterusnya dari titik-titik yang kita tentukan dan akhirnya titik-titik tersebut merupakan suatu daerah pemetaan. Dan pengukuran ini dilakukan searah jarum jam.
Untuk pengukuran poligon ini kita harus mempunyai beberapa titik-titik kedudukan sebagai awal pedoman untuk pengukuran selanjutnya. Juga diperlukan sebuah titik sebagai acuan Bench Mark ( BM ), bilamana tidak ada titik BM pada lokasi yang kita ukur, dapat kita mengambil sembarang benda untuk kita jadikan BM, dengan catatan benda tersebut tidak berubah kedudukannya.


2.1.2. GARIS KONTUR
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang elevasinya sama. Garis kontur memberikan informasi tentang daerah peta dan tidak menyembunyikan rincian-rincian peta lainnya yang penting. Garis-garis kontur juga memperlihatkan elevasi dan konfigurasi permukaan tanah. Elevasi titik-titik yang tidak terletak diatas garis kontur bias dicari dengan inter polasi antara dua garis kontur yang terletak pada kedua titik tersebut.
Garis kontur mulai dan berakhir pada tepi peta, atau menutup pada dirinya sendiri. Garis kontur yang menutup dirinya sendiri akan diperlihatkan oleh serangkaian garis kontur yang membentuk lingkaran diatas peta. Mereka menunjukkan sebuah depresi atau sebuah bukit. Sebuah bukit dapat diidentifikasikan dengan elevasi yang bertambah. Dalam sebuah depresi, garis kontur tertutup paling dalam akan terletek pada elevasi terendah. Pada garis kontur terendah, tanda arsiran yang menuju lubang tersebut akan terlihat.ini memastikan bahwa anda melihat sebuah lubang depresi karena tidak ada tanda arsiran yang digunakan pada bukit.
Garis kontur yang berjarak sama sepanjang garis yang tegak lurus terhadap kontur tersebut menunjukkan kelandaian ang tetap. Kontur yang lurus, sejajar, berjarak sama menunjukkan timbunana atau galian buatan manusia. Untuk memudahkan timbunana atau galian sebuah peta topografi, setiap garis kontur ke lima dibuat lebih tebal. Garis ini disebut kontur indeks. Kalau interfal kontur adalah 1 ft, garis-garis kontur yang elevasinya kelipatan 5 ft diperlihatkan dengan garis tebal.Kalau interfalnya 10 ft, kontur mempunyai elevasi kelipatan 50 ft.
Beberapa aturan-aturan dasar untuk menggambar garis kontur adalah sebagai berikut :
Ø Garis kontur tidak pernah berakhir atau berpotongan.
Ø Garis-garis kontur harus memiliki kenaikan elevasi sama.
Ø Garis kontur tidak bercabang menjadi dua kontur dengan elevasi sama.
Ø Garis kontur harus tegak lurus terhadap jurusan kelandaian maksimum.
Ø Garis kontur yang tidak teratur menunjukkan daerah yang tidak rata.
2.1.3. METODE LAPANGAN YANG DIPAKAI
Faktor-faktor yang mempengaruhi metode lapangan dalam pembuatan peta topografi adalah :
Skala peta.
Interfal kontur.
Kondisi alamiah tanah.
Jenis proyek.
Peralataan yang tersedia.
Dalam praktikum ini, kami mengunakan metode radiasi dimana radiasi adalah titik traverse yang diliputi oleh Theodolite. Sudut diukur ke titik yang dikehendaki, lalu jarak ke titik tersebut diukur dengan pita ukur. Pojok bangunan maupun obyek lainnya buatan manusia harus dicantumkan. Panjang, lebar dan proyeksi yang merupakan data penting diukur serta digambar didalam buku lapangan.
2.1.4. KOREKSI KESALAHAN YANG TERJADI
Koreksi kesalahan sangatlah diperlukan dalam analisa data, sebab data yang dianalisa tersebut memerlukan ketelitian. Beberapa hal yang perlu dikoreksi dalam analisa data yaitu:
1. Kontrol tidak terkoreksi.
2. Jarak titik kontrol terlalu besar.
3. Titik-titik kontrol tidak dipilih.
4. Pemilihan titik-titik untuk penggambaran kontur tidak baik.
5. Kontur yang diambil tidak cukup.
6. Kontur horizontal dan vertikal tidak cukup.
2.2. PENENTUAN TITIK IKAT DAN TITIK DETAIL
Dalam penggambaran polygon titik-titik kontrol,metode-metode yang dipakai untuk meletakkan posisi detail pada peta tergantung pada prosedur yang dipakai untuk menentukan lokasinya, dan bentuk dimana data itu berada. Bila catatan lapangan adalah sudut dan jarak, pusat batas dan titik-titik penting diatas dimana pekerjaan konstruksi sudah terjadi tergantung padanya, digambar dengan metode koordinat. Sedang untuk jarak digambar dengan skala dari puncak, untuk menggambar detail jelasnya tentang cara-cara membuat detail dengan busur.
2.3. PENGUKURAN JARAK DAN BEDA TINGGI SECARA OPTIS
Pengukuran dilakukan secara langsung dengan menggunakan pita ukur untuk titik-titik yang dekat dengan pesawat atau titik-titik yang posisinya akan dicari dengan teliti dan dikontrol dengan pengukuran menggunakan pesawat Theodolite untuk mendapatkan jarak optis dan hasilnya digunakan sebagai pembanding.Untuk mendapatkan jarak optis, pesawat ditempatkan pada titik utama yang telah ditentukan, kemudian dicatat tinggi pesawat. Arahkan teropong pada pembacaan baak kemudian dicatat ( BA, BT, BB ).
Pada pengukuran titik tinggi, beda tinggi, maupun jarak pada umumnya dilakukan secara optis.
GAMBAR PENGUKURAN DENGAN SUDUT MIRING ( α ) POSITIF
GAMBAR PENGUKURAN DENGAN SUDUT MIRING( α ) NEGATIF

a) Menentukan Sudut Dalam ( β )
1) β 1 = αAF - αAB
2) β2 = αBA - αBC
3) β3 = αCB - αCD
4) β4 = αDC - αDE
5) β5 = αED - αEF
6) β6 = αFE - αEA +
∑ β
b) Koreksi Sudut Untuk Poligon Tertutup ( f α )
f α = ( n – 2 ) 180 + ∑ β
Dimana ; n = jumlah titik yang dibidik
β = jumlah sudut
c) Koreksi Masing-masing Sudut
f α / n


d) Perhitungan Jarak ( D )
D = 100 ( BA – BB ) Cos2 α
Dimana ; α = 270° pembacaan vertical
P erhitungan Azimuth ( φ )
φAB = misal A ( Awal )
φBC = φAB + ( 180 – β2 )
φCD = φBC + ( 180 – β3 )
φDE = φCD + ( 180 – β4 )
φEF = φDE + ( 180 – β5 )
φFA = φEF + ( 180 – β6 )
® Chek : φAB = φFA + ( 180 – β1 )
e) Menghitung Panjang Proyeksi Sisi Poligon Pada Sumbu-X
Fx = di . Sin φ
f) Menghitung Panjang Proyeksi Sisi Poligon Pada Sumbu-Y
Fy = di . Cos φ
g) Beda Tinggi ( ΔH )
Dimana, TP = tinggi pesawat ; BB = benang bawah
BA = benang atas ; BT = benang tengah
2.4. PENYAJIAN PETA
2.4.1. Menggambar Titik Poligon
Sebelum titik poligon digambar diatas kertas, terlebih dahulu harus diperiksa apakah kesalahan yang terjadi telah memenuhi syarat. Apabila ternyata kesalahan terlalu besar, maka kita berusaha untuk melokalisir kesalahan tersebut. Menggambar titik-titik poligon pada kertas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1) Dengan koordinat
2) Dengan cara grafis
Pada penggambaran titik poligon dengan cara koordinat akan menghasilkan posisi yang lebih teliti dibandingkan cara grafis.
2.4.2. Menggambar Titik Detail
Penggambaran titik detail dapat dilakukan dengan menggunakan busur derajat dan mistar skala. Pusat diletakkan pada titik tempat pesawat dan skala busur diarahkan ke sumbu-O pada sumbu-Y ( Utara ), sudut yang sudah dibaca berupa azimuth, maka bacaan ke titik poligon harus disesuaikan dengan sudut pada busur derajat.
Sedangkan titik-titik detail yang lainnya dapat digambar sesuai dengan pembacaan sudut horizontal dan jaraknya.
2.4.3. Menggambar Garis Tinggi
Garis tinggi adalah garis yang menghubungkan titik yang sama elevasinya. Dari garis kontur ini kita dapat membayangkan keadaan medan yang sebenarnya. Besarnya kontur interval tergantung dari skala peta, kelanmdaian, atau menurut kebutuhan.
Untuk menggambarkan garis kontur harus dicari dulu titik-titik yang elevasinya sama. Untuk itu perlu diadakan interpolasi dari titik-titik yang tersedia dengan menggunakan perbandingan jarak.

2.4.4. Skala Peta
Pemilihan skala untuk sebuah peta pada ukuran proyek, presisi yang dikehendaki dan kegunaannya peta tersebut didesain. Skala peta diberikan menurut tiga cara yaitu :
1) Bentuk pecahan atau perbandingan, seperti 1 / 2000 atau 1 : 2000
2) Persamaan, seperti 1 inc = 200 ft.
3) Grafik.
Skala peta diklasifikasikan sebagai besar, sedang, ataupun kecil. Sebuah skala besar 1 inc = 100 ft ( 1 : 200 ) atau lebih besar. Sebuah skala sedang misalnya : 1 inc = 100 ft sampai 1000 ft ( 1 : 200 ) sampai ( 1 : 12000 ). Sebuah skala kecil misalnya : 1 inc = 100 ft ( 1 : 12000 ) atau lebih kecil. Dalam penggambaran garis kontur nanti kami mengunakan skala 1 : sesuai perhitungan.
2.4.5. Finishing
Ketelitian peta topografi ditentukan dari tujuan penggunaan peta, skala peta, peralatan yang digunakan dalam pembuatan peta. Disamping hal-hal tersebut, peta harus dilengkapi hal-hal berikut, yang merupakan finishing dari pembuatan antara lain :
1) Panah tanda petunjuk arah utara.
2) Skala peta, areal peta.
3) Keterangan, macam peta, kegunaan peta.
4) Keterangan areal yang dipetakan.
5) Interval kontur yang digunakan.
6) Tanggal, bulan, tahun pembuatan peta.
7) Nama pemeta ( pelaksana ).
Bila hal tersebut diatas sudah dilakukan, maka peta sudah siap digunakan sesuai keperluan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar